PAPA 1974 STORIES

Dari Pulo Mas Jakarta, Senin 14 Januari 1974 Mama dan (Alm) Papa pergi bersama Corbet-nya menemui Abah E.S (Elo Soetara) yang sedang berada di rumah ke-3 nya di Jalan Kosambi Raya No.72 Cirebon-Jawa Barat.

Adapun kunjungan mereka kesana adalah untuk berdiskusi Acara Pernikahan Mama-Papa yang kelak diselenggarakan pada Minggu 24 Maret 1974 di Pulo Mas Jakarta dan juga Samarinda Kalimantan Timur.

Abah Elo Soetara | Dolog 1957
Rumah ke-3 H. Elo Soetara

Alhamdulillah seusai diskusi keluarga, hari-pun menjelang malam, Papa memutuskan pulang ke Jakarta sekitar pukul 20.00 wib. Namun ketika Mama mempersiapkan barang bawaan-nya (kriing.. terdengar suara telephone rumah Abah berdering, Papa memperoleh kabar bahwa di kawasan Halim Perdana Kusuma terdapat ratusan massa yang tengah bersiap-bersiap melakukan aksi demonstrasi Malari.

Dikutip melalui berbagai media Sejarah 48 tahun silam, Malari atau Malapetaka Lima Belas Januari merupakan aksi demonstrasi pertama yang terjadi di Rezim Orde Baru. Para demonstran menuntut agar Sang Bento membatalkan hubungan kerjasama antara Indonesia dan Jepang.

Aksi Malari pecah saat Massa bergerak menuju kawasan Salemba dan Pasar Baru Jakarta. Aksi brutal tersebut menyasar ke produk-produk berbau Jepang. Sebanyak 807 mobil buatan Jepang dibakar dan diceburkan ke sungai, 187 motor rusak/dibakar. Penjarahan-pun terjadi di kawasan Pertokoan Senen dan Pasar Baru, dilaporkan sekitar 160 kg emas raib. Banyak mahasiswa dan masyarakat sipil tewas serta luka-luka dalam peristiwa Malari.

Malari Januari 1974

Mendengar banyaknya kendaraan Jepang yang dibakar, Papa menatap serius Corbet-nya. Ia khawatir bahwa aksi Malari merembet di berbagai pelosok Jakarta. (Corbet sebutan sedan yang menemani keluarga kami sejak tahun 1970).

Dikutip melalui Sejarah E20, Corbet atau Corolla Betawi (E20) merupakan Sedan buatan Jepang yang pertama kali dipasarkan Toyota ke Indonesia. Sedan yang pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1970 itu harus dilengkapi Fiskal terlebih dahulu. tidak ada kredit dan Inden.

Pada tahun 1973 Toyota resmi berdiri di Tanah Air. Namun tak ada keterangan berapa unit dirakitnya Corolla E20 di masa itu.

Menurut Badan Pusat Statistik Kendaraan dan Sensus Penduduk Indonesia 1974, jumlah kendaraan di Indonesia baru menembus angka 1, 2 juta unit dari total Penduduk Indonesia yang baru mencapai 127, 4 juta jiwa

Corolla hadir dikala Masyarakat Indonesia Dilanda Krisis Beras. Sulitnya komoditas beras menjadikan 127,4 juta jiwa rakyat Indonesia terpaksa mengkonsumsi makanan kuda alias Bulgur. Ditambah lagi, pada tahun 1973 s/d 1975 seluruh dunia sedang mengalami Stagflasi Krisis Minyak.

Di momentum inilah Jepang berupaya menggeser pabrikan mobil-mobil eropa yang telah lama bercokol di kawasan Asia (khususnya Indonesia). Banyak kendaraan-kendaran Eropa yang boros bahan bakar itu dibuat tumbang oleh Corbet.

Demi menghindari Malari, Rabu 16 Januari, Papa memutuskan pulang ke Jakarta menggunakan transportasi kereta. Pada tanggal 1 Februari-nya mereka-pun kembali ke Cirebon dan dijemput oleh 2 sepupu dari Papa (Om Nui dan Ncu’i). Diperjalanan Papa meminta diantar menuju kampung halaman tercintanya (Randobawa hilir) kemudian bablas ke Linggar Jati dan kembali ke Kosambi untuk pamit pulang.

Papa, Mama, Om Nui (Jaksa)
– Randobawa Hilir
(Alm). Papa & Om N’cui

Sebelum meninggalkan kediaman Abah E.S, Mama meminta tolong kepada mang kawi (tukang kebun abah) agar mengabadikan foto bersama 2 adik-adik tercinta-nya Papa,

” Hampura, saya tidak mengerti den,” (tutur mang kawi) “.

Mendengar ucapan mang kawi yang tak paham operasikan Tustel, Tante lies dan almarhumah tante linda tertawa. Akhirnya om Nu’i mengambil alih tustel tersebut, Ketika mereka sedang berpose disamping corbet, kebetulan almarhum om mul pulang sekolah, Mama pun tak lupa mengajak almarhum om mul ber’swafoto bersama. namun terlihat raut muka Papa yang masih belum tampak sumringah.

(kiri) Alm. Om Mulyana, (tengah) Almh. Tante Linda, Lis (Kanan), Alm. Papa dan Mama (Belakang)
Photo taken by : Om H. Mas’nui (ayah ASM)

Seusai abadikan foto, Mang Kawi bergegas membantu Papa memasuki barang-barang bawaan ke bagasi. Mang kawi-pun mengucapkan ” hati-hati den, semoga aden selamat sampai ditujuan “

Spesial Thanks to : Allah SWT & Muhammad SAW,