
Rabu 02 Mei 1907 di suatu desa gorang gareng nguntoronadi magetan-madiun jawa timur telah lahir seorang laki-laki bernama Sumodihardjo. beliau adalah putra tunggal dari kedua pasangan bapak Waidin Sumohardjo & R. Sumirah.
Konon kedua orang tua Soemodihardjo meninggal dunia dikala ia masih kecil, Soemodihardjo diasuh oleh seorang kakek yang memiliki hubungan sedarah dari Ibu-nya (R. Sumirah) di Maospati.
Kakek yang membesarkan Soemodihardjo banyak menceritakan tentang silsilah kedua orang tua-nya. Kakek itu menuturkan :
” Jauh dimasa Soemirah lahir, kedua orang tua Sumirah merupakan keturunan ke 22 dari Sang penguasa Majapahit, Raden Brawijaya V. Kemudian Sang Raja (ꦦꦺꦴꦤꦺꦴꦫꦺꦴꦒ) memiliki putera bernama Raden Bhatarakatong (lembu kanigoro atau joko piturun).
Bhatarakatong merupakan seorang tokoh penguasa adipati yang ditunjuk kerajaan demak dalam membawa misi menyebarkan agama Islam di wilayah Pramanaraga atau (Ponorogo). Meski generasi turun menurunnya terlampau jauh, namun nama ibumu turut serta diabadikan dalam sertifikat kekeratonan Ponorogo, (tutur kakek hbj).
Menjelang usia remaja Sumodihardjo pernah diajak sang kakek ke suatu wilayah kekeratonan KBJ. tujuan mulia sang kakek agar Soemodihardjo mengenal garis-garis keturunan dari kedua ayah-ibunya. Hingga di suatu hari keluarga kekeratonan memberikan sertifikat kepada Soemodihardjo dengan sebutan R.ML atau Raden Mas Lantjur yang resmi tercatat dalam darah keluarga keraton ꦦꦺꦴꦤꦺꦴꦫꦺꦴꦒ
Dalam arti bahasa jawa, ” Lanjtur ” bermakna sehelai bulu ayam jantan putih. Makna Raden Mas juga bermakna sebagai anak tunggal yang mewarisi keturunan dari bapak/ibunya. Namun dengan jiwa kesederhanaan-nya Soemodihardjo tak pernah ingin menulis sosok gelar yang mengalir di tubuhnya. Kendati-pun demikian, Soemodihardjo tidak pernah kembali berkunjung kekeratonan.
Sumodihardjo dibesarkan di era masa penjajahan kolonial hindia-belanda, Menurut Tirto.id, di zaman itu tidaklah banyak orang yang boleh mengenyam bangku pendidikan terkecuali mereka yang masih memiliki garis keturunan bangsawan. Meski Soemodihardjo tak pernah lagi berkunjung ke keratonan namun atas izin Allah SWT dan keabsahan sertifikasi nya kolonial belanda memperbolehkan Soemodihardjo mengenyam pendidikan di HIS (Holland Indlandsce School) sampai ke taraf HBS (Hoogere Burger School), sebuah sekolah yang mengajari KH. Agus Salim dan Putera Sang Fajar Koesnososrodihardjo
Sumodihardjo adalah lelaki berwatak keras, mandiri nan sederhana. Kegemarannya adalah bercocok tanam, membaca koran pagi dan menjelang sore hari. Pada tahun 1924 Soemodihardjo hijrah ke Batam dan Singapore. Setelah pulang dari sana ia melamar bekerja di departemen keuangan provinsi bangka timur sumatera selatan kemudian ia dimutasi sebagai Hoofd Bedeer (bahasa belanda) yang bermakna kepala cabang di salah satu badan hukum jawatan perusahaan negara yang kini dikenal sebagai pegadaian.
Selama bertugas di bangka, pada sekitar tahun 1929 Allah mempertemukan Soemodihardjo dengan wanita asal suku bangka kelahiran 22 juni 1915, wanita itu bernama Siti Rukiyah binti Akum. Siti Rukiyah merupakan seorang guru bahasa belanda.


Di tahun 1930 Soemodihardjo dan Siti Rukiyah menikah, atas rahmat Allah SWT mereka dikaruniai 12 orang anak, 8 perempuan dan 4 laki- laki :

• Suwartini (Almarhumah)
• Suryadi
• Bazarudin (Almarhum)
• Mulyati (Almarhumah)
• Nuraini (Almarhumah)
• Siti Hassanah
• Rasyidi
• Rusmini (Almarhumah)
• Surachman (Almarhum)
• Sri Hartita
• Rusgiarti
• Yetty Wiendarsih
Pada hari minggu 05 september 1969 di umur yang ke 54, siti rukiyah meninggal dunia akibat kecelakaan di Jl. bluntas paseban jakarta-pusat. beliau di makam kan di TPU jalan pedati jakarta timur.
Semasa hidupnya siti rukiyah banyak mengajari cinta dan kasih sayang terhadap sesama. Pada hari rabu 26 oktober 1994 pukul 14.10 WIB, di usia nya yang ke 87 tahun Soemodihardjo menghembuskan nafas terakhir di rumah anak bungsu’nya (Yetty Wiendarsih/Mama Ridwan). Jenazah Soemodihardjo dikebumikan di TPU bulak tinggi pondok gede- bekasi.

Di tahun 1997 keluarga besar almarhum soemodiharjo bersepakat memindahkan makam almarhumah nenek siti rukiyah dari TPU pedati ke bulak tinggi agar berdekatan dengan makam suaminya ” Almarhum Mbah Sumodihardjo “
Semoga Amal Ibadah Almarhum dan Almarhumah terus mengalir, dan apa yang diajarkan oleh mereka kelak menjadi Ilmu bermanfaat bagi seluruh generasi nya. Aamiin Allahuma Aamiin ya robbal Alamiin.
Al- Fatihaa …..
Sumber :
• Cerita Almarhum semasa hidup.
• Kel. besar Madiun & Soeryadi.
• Desa Pingkuk
• Sejarah Ponorogo



*Wallahu A’lam bishawab