PAPA, ORYZA SATIVA & PELITA AIR

Temindung merupakan nama Bandara yang pernah ada di Samarinda Kalimantan Timur. Pada Juli 1974 Bandara ini dibangun oleh PT. Pelita Air Services dan resmi berhenti operasi sejak 2018.

Jauh sebelum Temindung diresmikan, Konon di bandara ini menjadi pusat operasi Dirgantara Air Services (DAS) yang berperan menjaga Gudang Logistik Penyimpanan Beras-Bulgur bernama PT. Oryza Sativa (OS). Nama Oryza Sativa diambil melalui bahasa latin yang bermakna tanaman penting dalam peradaban ummat manusia. 

Oryza Sativa dibentuk oleh BPUP demi mengatasi Bencana Kelaparan yang pernah melanda masyarakat Indonesia pada tahun 1970’an.

📖  Kisah Gubernur Riau (Syamsuar) kenang masa sulit makan makanan kuda sebagai pengganti beras

Berdasarkan Keputusan Presidium Kabinet No.114/U/Kep/5/1967 guna mewadahi Pedagang-pedagang Besar Swasta serta menegakkannya eksistensi pemerintahan baru dalam mengamankan penyediaan pangan dan stabilisasi harga, BPUP berganti nama menjadi Bulog, Letnan Jenderal Bustanil Arifin selaku Kepala Badan Urusan Logistik melantik :

(1) Budiadji sebagai Kadolog/Kepala Depot logistik Balikpapan, (2). Abah Elo Soetara (Kepala Gudang), (3). Purwadi (Operasional) dan pada tahun 1972, Papa Ade Effendy Elo Soetara diangkat sebagai Pimpinan Pelita Air Service & Direktur Pedagang Besar Swasta PT. Sukapura (IndoPangan)

Namun Jumat 5 Desember 1975, di usia 22 tahun, Papa yang memangku jabatan sebagai Pimpinan PAS/Pelita Air Services ” mengundurkan diri atas permintaannya sendiri

” Ya, dimasa itu kakak pertama kamu (Dewi Utary) masih berusia 9 bulan, papa mengundurkan diri karena Papa melihat beberapa kejanggalan, jika apa yang Papa lihat itu benar terjadi, maka peristiwa itu menjadi Skandal Korupsi Terbesar dalam Sejarah Pangan Indonesia, Korupsi itu dilakukan oleh orang terkuat se-kalimantan bernama Budiadji. Pada tahun 1976 Budiadji merugikan negara sebesar 4,7 milyar  ” (tutur almarhum papa). 

Jika dinominalkan di masa sekarang (2018), berapakah nilai 4,7 milyar itu pah ? (Tanya saya kepada Alm.Papa)

– Coba kamu cari di Internet mengenai Pasal 1 tentang Undang-undang Pengeluaran Oeang RI No.19/1946, disana Pemerintah menegaskan bahwa : ” Setiap Sepuluh Rupiah Oeang Republik Indonesia setara dengan Emas Murni Seberat Lima Gram ” maka Rp.4,7 milyar merupakan angka fantastis di era 1970’an, bedanya, 1 Dollar dimasa itu senilai Rp. 2,300 (lanjut papa).

Ustadz Zaim Saidi

Lantas, jika Papa tidak terlibat, mengapa Papa mengundurkan diri ? (Lanjut saya bertanya kepada Alm.Papa)

De, meskipun Papa dan Abah tidaklah terlibat, namun peristiwa ini adalah suatu peristiwa Korupsi terbesar didalam sejarah pangan Indonesia.

Papa harus mempersiapkan bukti-bukti agar abah (Elo Soetara) tidak terseret dalam peristiwa yang pernah terjadi 42 tahun silam itu, setelah Papa resmi mengundurkan diri, dari Samarinda Papa pulang ke Pulo Mas Jakarta untuk menemui Mbah kamu (Sumodihardjo). Alhamdulillah Mbah mengutus Papa menemui Eyang Soegiri dan menceritakan semuanya dengan jujur. Papa diminta menyerahkan bukti-bukti kepada nya, mulai dari bukti ketersediaan beras, keberadaan Mesin NCR dlsb. Semua Papa lakukan agar abah benar-benar tidak terlibat. sebab peristiwa ini sama hal nya pengkhianatan bagi 127,4 juta jiwa rakyat Indonesia yang kala itu sedang sulit makan. (Sambung Papa) 

10 bulan mangkat nya Papa dari tubuh Bulog-Pertamina, Senin 4 Oktober 1976 Almarhum Papa membuktikan peristiwa ini kepada sahabat terdekatnya Aji Muhammad Arifin, karena beliau yang memperkuat bahwa kita tidak terlibat, namun setelah itu Budiadji resmi ditangkap dan dijatuhi HUKUMAN PENJARA SEUMUR HIDUP.

Sumber Rangkuman :

📖 Kisah Bencana Kelaparan Indonesia 1970

📖 Sejarah Korupsi Indonesia