MAS KAWIN PAPA

HAPPY ANNIVERSARY WEEDING 48 TAHUN

Alm. papa saat bergegas ke pelaminan

Minggu 24 maret 1974, di usia yang ke 22 tahun Adde Effendy (Alm.Papa) menikahi Yetty Wiendarsih (Mama) dan memberinya mahar sebesar Rp. 50.000.-.

Menanggapi nominal mahar Rp.50.000, saya tertawa, namun saya terdiam setelah membaca Undang-undang Oeang (RI) No.19/1946 yang menegaskan bahwa ” Setiap 10 Oeang Republik Indonesia sama halnya Emas murni seberat 5 gram “

Lokasi : Kp. Ambon Jakarta,

Ustadz Zaim Saidi

BRAWIJAYA 5 | FAMILY

– Trah Brawijaya 5 –

Pernikahan Alm. Sayogo bin Danubroto & Rusgiarti @Gd. Dharmawanita Jakarta 1971

Almarhum Dr. Soewoendo (Safari Abu-abu) ” adalah Ayah dari Mantan Menteri Siswono Yudo husodo. Konon Sepupu Almarhum Mbah Sumodihardjo ini pernah menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta 3 periode di era Ali Sadikin. Ia juga aktif sebagai anggota Dewan MPR Perwakilan Fraksi Partai Nasional Indonesia (PNI).

Selama menghabiskan sisa hidupnya Mbah Soewondo satu-satunya Pelopor Dokter yang pernah mendonorkan matanya. Nama Mbah Soewondo diabadikan menjadi 2 nama RSUD di Pati dan Kendal Jawa Tengah


Almarhum. H. B. Maryo Danubroto (Kacamata Jas Hitam-Kiri) merupakan Mertua dari Bude Rusgiarti (Upi). 74 tahun silam, Pada hari Rabu 22 desember 1948, Almarhum. M. Danubroto pernah terlibat dalam rapat Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) bersama Mr. Syafruddin Prawiranegara. Pada tahun 1951-nya H. B. Maryo danubroto diangkat sebagai Coordinator Resident/Gubernur Aceh.

Pasca meninggal dunia nama beliau diabadikan menjadi sebuah Jalan bernama Resident DanuBroto di Geuceu Banda Raya – Banda Aceh 23122.

Tsuma Ilaruhi Mbah/Eyang/Kakung/Pakde kita Al-Fatiha…

PAPA, ORYZA SATIVA & PELITA AIR

Temindung merupakan nama Bandara yang pernah ada di Samarinda Kalimantan Timur. Pada Juli 1974 Bandara ini dibangun oleh PT. Pelita Air Services dan resmi berhenti operasi sejak 2018.

Jauh sebelum Temindung diresmikan, Konon di bandara ini menjadi pusat operasi Dirgantara Air Services (DAS) yang berperan menjaga Gudang Logistik Penyimpanan Beras-Bulgur bernama PT. Oryza Sativa (OS). Nama Oryza Sativa diambil melalui bahasa latin yang bermakna tanaman penting dalam peradaban ummat manusia. 

Oryza Sativa dibentuk oleh BPUP demi mengatasi Bencana Kelaparan yang pernah melanda masyarakat Indonesia pada tahun 1970’an.

📖  Kisah Gubernur Riau (Syamsuar) kenang masa sulit makan makanan kuda sebagai pengganti beras

Berdasarkan Keputusan Presidium Kabinet No.114/U/Kep/5/1967 guna mewadahi Pedagang-pedagang Besar Swasta serta menegakkannya eksistensi pemerintahan baru dalam mengamankan penyediaan pangan dan stabilisasi harga, BPUP berganti nama menjadi Bulog, Letnan Jenderal Bustanil Arifin selaku Kepala Badan Urusan Logistik melantik :

(1) Budiadji sebagai Kadolog/Kepala Depot logistik Balikpapan, (2). Abah Elo Soetara (Kepala Gudang), (3). Purwadi (Operasional) dan pada tahun 1972, Papa Ade Effendy Elo Soetara diangkat sebagai Pimpinan Pelita Air Service & Direktur Pedagang Besar Swasta PT. Sukapura (IndoPangan)

Namun Jumat 5 Desember 1975, di usia 22 tahun, Papa yang memangku jabatan sebagai Pimpinan PAS/Pelita Air Services ” mengundurkan diri atas permintaannya sendiri

” Ya, dimasa itu kakak pertama kamu (Dewi Utary) masih berusia 9 bulan, papa mengundurkan diri karena Papa melihat beberapa kejanggalan, jika apa yang Papa lihat itu benar terjadi, maka peristiwa itu menjadi Skandal Korupsi Terbesar dalam Sejarah Pangan Indonesia, Korupsi itu dilakukan oleh orang terkuat se-kalimantan bernama Budiadji. Pada tahun 1976 Budiadji merugikan negara sebesar 4,7 milyar  ” (tutur almarhum papa). 

Jika dinominalkan di masa sekarang (2018), berapakah nilai 4,7 milyar itu pah ? (Tanya saya kepada Alm.Papa)

– Coba kamu cari di Internet mengenai Pasal 1 tentang Undang-undang Pengeluaran Oeang RI No.19/1946, disana Pemerintah menegaskan bahwa : ” Setiap Sepuluh Rupiah Oeang Republik Indonesia setara dengan Emas Murni Seberat Lima Gram ” maka Rp.4,7 milyar merupakan angka fantastis di era 1970’an, bedanya, 1 Dollar dimasa itu senilai Rp. 2,300 (lanjut papa).

Ustadz Zaim Saidi

Lantas, jika Papa tidak terlibat, mengapa Papa mengundurkan diri ? (Lanjut saya bertanya kepada Alm.Papa)

De, meskipun Papa dan Abah tidaklah terlibat, namun peristiwa ini adalah suatu peristiwa Korupsi terbesar didalam sejarah pangan Indonesia.

Papa harus mempersiapkan bukti-bukti agar abah (Elo Soetara) tidak terseret dalam peristiwa yang pernah terjadi 42 tahun silam itu, setelah Papa resmi mengundurkan diri, dari Samarinda Papa pulang ke Pulo Mas Jakarta untuk menemui Mbah kamu (Sumodihardjo). Alhamdulillah Mbah mengutus Papa menemui Eyang Soegiri dan menceritakan semuanya dengan jujur. Papa diminta menyerahkan bukti-bukti kepada nya, mulai dari bukti ketersediaan beras, keberadaan Mesin NCR dlsb. Semua Papa lakukan agar abah benar-benar tidak terlibat. sebab peristiwa ini sama hal nya pengkhianatan bagi 127,4 juta jiwa rakyat Indonesia yang kala itu sedang sulit makan. (Sambung Papa) 

10 bulan mangkat nya Papa dari tubuh Bulog-Pertamina, Senin 4 Oktober 1976 Almarhum Papa membuktikan peristiwa ini kepada sahabat terdekatnya Aji Muhammad Arifin, karena beliau yang memperkuat bahwa kita tidak terlibat, namun setelah itu Budiadji resmi ditangkap dan dijatuhi HUKUMAN PENJARA SEUMUR HIDUP.

Sumber Rangkuman :

📖 Kisah Bencana Kelaparan Indonesia 1970

📖 Sejarah Korupsi Indonesia

Mbah Soekrisman

Pemegang saham sekaligus Senior Advisor PT. Pembangunan Jaya Ir Soekrisman meninggal dunia pada Rabu, 3 Februari 2021 pukul 21.55 Wib di RS Pondok Indah Jakarta dalam usia 87 tahun.

Ir Soekrisman atau biasa dipanggil Pak Kris, adalah salah satu pimpinan terlama dalam sejarah Jaya bersama dengan Alm Ir Ciputra dan Ir Hiskak Secakusuma. Pria kelahiran 18 Maret 1933 ini adalah lulusan Sarjana Arsitektur Melbourne University pada tahun 1962, dan langsung bergabung di PT Pembangunan Jaya pada tahun 1963.

Alm. Ir. Ciputra (kiri), Alm. Ir. Hishak Secakusuma (tengah), Alm. Ir. Soekrisman (Kanan).

Penggemar motor gede (moge) dan otomotif ini adalah lambang Integritas Jaya.  Alm Ir. Ciputra semasa hidupnya memuji Pak Kris sebagai orang yang telaten dan jujur sekali. Kepribadian yang sederhana, begitu sosok Ir Soekrisman dimata para Direksi Jaya. Pak Kris adalah kombinasi trio yang saling melengkapi antara Direksi Jaya pada masa itu, Alm Ir. Ciputra, Alm Ir.Soekrisman dan Pak Seca.

Pengabdiannya yang sangat lama meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh keluarga besar PT Pembangunan Jaya. Menurut para pemegang saham, Pak Kris adalah seorang teman dan guru yang benar-benar “a true friend” dan benar-benar orang baik. Kepribadian yang sederhana dan santun, begitu sosok Ir. Soekrisman dimata para karyawan, sangat humanistik.

Bagi kami para Direksi PT Pembangunan Jaya, “Beliau adalah pemimpin Jaya yang telah mendedikasikan hampir seluruh hidupnya untuk Jaya, dengan integritas dan komitmen penuh, beliau contoh nyata dan panutan yang patut diteladani oleh seluruh karyawan Jaya.” Pak Kris, di usianya yang menjelang 88 tahun tidak membuat beliau letih untuk setiap pagi datang ke kantor mengendarai mobil Volvo kesayangannya buatan tahun 1974.

Pak Kris baru saja meninggalkan posisi sebagai Komisaris PT Pembangunan Jaya untuk kemudian ditunjuk sebagai Senior Advisor pada 22 Januari 2020 guna meneruskan tongkat estafet ke pemimpin-pemimpin muda dari generasi penerus Jaya. Namun takdir berkata lain Tuhan memanggilnya terlebih dahulu. -Tempo.com

Peluk cium kami, (Kel. Soemodihardjo Family)

Mbah/Eyang | Mas Lantjoer Soemodihardjo

Soemodihardjo @HB School 1921

Rabu 02 Mei 1907 di suatu desa gorang gareng nguntoronadi magetan-madiun jawa timur telah lahir seorang laki-laki bernama Sumodihardjo. beliau adalah putra tunggal dari kedua pasangan bapak Waidin Sumohardjo & R. Sumirah.

Konon kedua orang tua Soemodihardjo meninggal dunia dikala ia masih kecil, Soemodihardjo diasuh oleh seorang kakek yang memiliki hubungan sedarah dari Ibu-nya (R. Sumirah) di Maospati.

Kakek yang membesarkan Soemodihardjo banyak menceritakan tentang silsilah kedua orang tua-nya. Kakek itu menuturkan :

Jauh dimasa Soemirah lahir, kedua orang tua Sumirah merupakan keturunan ke 22 dari Sang penguasa Majapahit, Raden Brawijaya V. Kemudian Sang Raja (ꦦꦺꦴꦤꦺꦴꦫꦺꦴꦒ) memiliki putera bernama Raden Bhatarakatong (lembu kanigoro atau joko piturun).

Bhatarakatong merupakan seorang tokoh penguasa adipati yang ditunjuk kerajaan demak dalam membawa misi menyebarkan agama Islam di wilayah Pramanaraga atau (Ponorogo). Meski generasi turun menurunnya terlampau jauh, namun nama ibumu turut serta diabadikan dalam sertifikat kekeratonan Ponorogo, (tutur kakek hbj).

Menjelang usia remaja Sumodihardjo pernah diajak sang kakek ke suatu wilayah kekeratonan KBJ. tujuan mulia sang kakek agar Soemodihardjo mengenal garis-garis keturunan dari kedua ayah-ibunya. Hingga di suatu hari keluarga kekeratonan memberikan sertifikat kepada Soemodihardjo dengan sebutan R.ML atau Raden Mas Lantjur yang resmi tercatat dalam darah keluarga keraton ꦦꦺꦴꦤꦺꦴꦫꦺꦴꦒ

Dalam arti bahasa jawa, ” Lanjtur ” bermakna sehelai bulu ayam jantan putih. Makna Raden Mas juga bermakna sebagai anak tunggal yang mewarisi keturunan dari bapak/ibunya. Namun dengan jiwa kesederhanaan-nya Soemodihardjo tak pernah ingin menulis sosok gelar yang mengalir di tubuhnya. Kendati-pun demikian, Soemodihardjo tidak pernah kembali berkunjung kekeratonan.

Sumodihardjo dibesarkan di era masa penjajahan kolonial hindia-belanda, Menurut Tirto.id, di zaman itu tidaklah banyak orang yang boleh mengenyam bangku pendidikan terkecuali mereka yang masih memiliki garis keturunan bangsawan. Meski Soemodihardjo tak pernah lagi berkunjung ke keratonan namun atas izin Allah SWT dan keabsahan sertifikasi nya kolonial belanda memperbolehkan Soemodihardjo mengenyam pendidikan di HIS (Holland Indlandsce School) sampai ke taraf HBS (Hoogere Burger School), sebuah sekolah yang mengajari KH. Agus Salim dan Putera Sang Fajar Koesnososrodihardjo

Sumodihardjo adalah lelaki berwatak keras, mandiri nan sederhana. Kegemarannya adalah bercocok tanam, membaca koran pagi dan menjelang sore hari. Pada tahun 1924 Soemodihardjo hijrah ke Batam dan Singapore. Setelah pulang dari sana ia melamar bekerja di departemen keuangan provinsi bangka timur sumatera selatan kemudian ia dimutasi sebagai Hoofd Bedeer (bahasa belanda) yang bermakna kepala cabang di salah satu badan hukum jawatan perusahaan negara yang kini dikenal sebagai pegadaian.

Selama bertugas di bangka, pada sekitar tahun 1929 Allah mempertemukan Soemodihardjo dengan wanita asal suku bangka kelahiran 22 juni 1915, wanita itu bernama Siti Rukiyah binti Akum. Siti Rukiyah merupakan seorang guru bahasa belanda.

Di tahun 1930 Soemodihardjo dan Siti Rukiyah menikah, atas rahmat Allah SWT mereka dikaruniai 12 orang anak, 8 perempuan dan 4 laki- laki :

Keluarga Besar Soemodihardjo Bangka 1957

• Suwartini (Almarhumah)
• Suryadi
• Bazarudin (Almarhum)
• Mulyati (Almarhumah)
• Nuraini (Almarhumah)
• Siti Hassanah
• Rasyidi
• Rusmini (Almarhumah)
• Surachman (Almarhum)
• Sri Hartita
• Rusgiarti
• Yetty Wiendarsih

Pada hari minggu 05 september 1969 di umur yang ke 54, siti rukiyah meninggal dunia akibat kecelakaan di Jl. bluntas paseban jakarta-pusat. beliau di makam kan di TPU jalan pedati jakarta timur.

Semasa hidupnya siti rukiyah banyak mengajari cinta dan kasih sayang terhadap sesama. Pada hari rabu 26 oktober 1994 pukul 14.10 WIB, di usia nya yang ke 87 tahun Soemodihardjo menghembuskan nafas terakhir di rumah anak bungsu’nya (Yetty Wiendarsih/Mama Ridwan). Jenazah Soemodihardjo dikebumikan di TPU bulak tinggi pondok gede- bekasi.

– Rumah Biru Soemodihardjo Meninggal Dunia –

Di tahun 1997 keluarga besar almarhum soemodiharjo bersepakat memindahkan makam almarhumah nenek siti rukiyah dari TPU pedati ke bulak tinggi agar berdekatan dengan makam suaminya ” Almarhum Mbah Sumodihardjo “

Semoga Amal Ibadah Almarhum dan Almarhumah terus mengalir, dan apa yang diajarkan oleh mereka kelak menjadi Ilmu bermanfaat bagi seluruh generasi nya. Aamiin Allahuma Aamiin ya robbal Alamiin. 

Al- Fatihaa …..

Sumber :

• Cerita Almarhum semasa hidup.
• Kel. besar Madiun & Soeryadi.
• Desa Pingkuk
• Sejarah Ponorogo

– Aku dan sebuah cerita si Mbah –

*Wallahu A’lam bishawab

PAPA 1974 STORIES

Dari Pulo Mas Jakarta, Senin 14 Januari 1974 Mama dan (Alm) Papa pergi bersama Corbet-nya menemui Abah E.S (Elo Soetara) yang sedang berada di rumah ke-3 nya di Jalan Kosambi Raya No.72 Cirebon-Jawa Barat.

Adapun kunjungan mereka kesana adalah untuk berdiskusi Acara Pernikahan Mama-Papa yang kelak diselenggarakan pada Minggu 24 Maret 1974 di Pulo Mas Jakarta dan juga Samarinda Kalimantan Timur.

Abah Elo Soetara | Dolog 1957
Rumah ke-3 H. Elo Soetara

Alhamdulillah seusai diskusi keluarga, hari-pun menjelang malam, Papa memutuskan pulang ke Jakarta sekitar pukul 20.00 wib. Namun ketika Mama mempersiapkan barang bawaan-nya (kriing.. terdengar suara telephone rumah Abah berdering, Papa memperoleh kabar bahwa di kawasan Halim Perdana Kusuma terdapat ratusan massa yang tengah bersiap-bersiap melakukan aksi demonstrasi Malari.

Dikutip melalui berbagai media Sejarah 48 tahun silam, Malari atau Malapetaka Lima Belas Januari merupakan aksi demonstrasi pertama yang terjadi di Rezim Orde Baru. Para demonstran menuntut agar Sang Bento membatalkan hubungan kerjasama antara Indonesia dan Jepang.

Aksi Malari pecah saat Massa bergerak menuju kawasan Salemba dan Pasar Baru Jakarta. Aksi brutal tersebut menyasar ke produk-produk berbau Jepang. Sebanyak 807 mobil buatan Jepang dibakar dan diceburkan ke sungai, 187 motor rusak/dibakar. Penjarahan-pun terjadi di kawasan Pertokoan Senen dan Pasar Baru, dilaporkan sekitar 160 kg emas raib. Banyak mahasiswa dan masyarakat sipil tewas serta luka-luka dalam peristiwa Malari.

Malari Januari 1974

Mendengar banyaknya kendaraan Jepang yang dibakar, Papa menatap serius Corbet-nya. Ia khawatir bahwa aksi Malari merembet di berbagai pelosok Jakarta. (Corbet sebutan sedan yang menemani keluarga kami sejak tahun 1970).

Dikutip melalui Sejarah E20, Corbet atau Corolla Betawi (E20) merupakan Sedan buatan Jepang yang pertama kali dipasarkan Toyota ke Indonesia. Sedan yang pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1970 itu harus dilengkapi Fiskal terlebih dahulu. tidak ada kredit dan Inden.

Pada tahun 1973 Toyota resmi berdiri di Tanah Air. Namun tak ada keterangan berapa unit dirakitnya Corolla E20 di masa itu.

Menurut Badan Pusat Statistik Kendaraan dan Sensus Penduduk Indonesia 1974, jumlah kendaraan di Indonesia baru menembus angka 1, 2 juta unit dari total Penduduk Indonesia yang baru mencapai 127, 4 juta jiwa

Corolla hadir dikala Masyarakat Indonesia Dilanda Krisis Beras. Sulitnya komoditas beras menjadikan 127,4 juta jiwa rakyat Indonesia terpaksa mengkonsumsi makanan kuda alias Bulgur. Ditambah lagi, pada tahun 1973 s/d 1975 seluruh dunia sedang mengalami Stagflasi Krisis Minyak.

Di momentum inilah Jepang berupaya menggeser pabrikan mobil-mobil eropa yang telah lama bercokol di kawasan Asia (khususnya Indonesia). Banyak kendaraan-kendaran Eropa yang boros bahan bakar itu dibuat tumbang oleh Corbet.

Demi menghindari Malari, Rabu 16 Januari, Papa memutuskan pulang ke Jakarta menggunakan transportasi kereta. Pada tanggal 1 Februari-nya mereka-pun kembali ke Cirebon dan dijemput oleh 2 sepupu dari Papa (Om Nui dan Ncu’i). Diperjalanan Papa meminta diantar menuju kampung halaman tercintanya (Randobawa hilir) kemudian bablas ke Linggar Jati dan kembali ke Kosambi untuk pamit pulang.

Papa, Mama, Om Nui (Jaksa)
– Randobawa Hilir
(Alm). Papa & Om N’cui

Sebelum meninggalkan kediaman Abah E.S, Mama meminta tolong kepada mang kawi (tukang kebun abah) agar mengabadikan foto bersama 2 adik-adik tercinta-nya Papa,

” Hampura, saya tidak mengerti den,” (tutur mang kawi) “.

Mendengar ucapan mang kawi yang tak paham operasikan Tustel, Tante lies dan almarhumah tante linda tertawa. Akhirnya om Nu’i mengambil alih tustel tersebut, Ketika mereka sedang berpose disamping corbet, kebetulan almarhum om mul pulang sekolah, Mama pun tak lupa mengajak almarhum om mul ber’swafoto bersama. namun terlihat raut muka Papa yang masih belum tampak sumringah.

(kiri) Alm. Om Mulyana, (tengah) Almh. Tante Linda, Lis (Kanan), Alm. Papa dan Mama (Belakang)
Photo taken by : Om H. Mas’nui (ayah ASM)

Seusai abadikan foto, Mang Kawi bergegas membantu Papa memasuki barang-barang bawaan ke bagasi. Mang kawi-pun mengucapkan ” hati-hati den, semoga aden selamat sampai ditujuan “

Spesial Thanks to : Allah SWT & Muhammad SAW,